Penggunaan beton pada sebuah bangunan atau infrastruktur telah marak digunakan akhir-akhir ini. Tak heran jika kualitas beton di pasaran telah banyak menimbulkan persaingan . Bukan hanya soal harga namun juga kualitas. Sejumlah pabrik beton kini tengah berlomba-lomba memberikan kualitas terbaik demi memenuhi kebutuhan infrastruktur suatu proyek. Begitu juga dengan kami PT. Megacon Bangun Perkasa. Kami siap memberikan pelayanan pembelian beton untuk segala kebutuhan konstruksi anda.

Pada artikel berikut ini, kami akan mengulas bahan baku pembuatan beton sesuai standar. Bila anda tertarik dengan cara pembuatan beton, maka artikel ini sangat tepat untuk Anda kunjungi.

Sejatinya beton merupakan sebuah material yang telah melalui proses perpaduan antara semen, kerikil/split, pasir dan air. Bahan baku semen juga bisa ditambahkan dengan zat aditif seperti cairan kimia yang memiliki beragam fungsi. Mulai dari pemercepat atau perlambatan proses pengerasan beton dan masih banyak lagi.

Batu Beton

Merupakan salah satu material yang paling banyak dipakai di beberapa daerah. Dalam istilah SNI batu beton juga dinamakan dengan agregat kasar. Hal ini dikarenakan pada beton memiliki kandungan berupa batu pecah atau kerikil yang berfungsi untuk material agregat kasar. Pemilihan batuannya sendiri terdiri dari batuan alam utuh yang kemudian dipecah menjadi kecil-kecil. Secara umum batuan tersebut dipungut dari sungai-sungai. Ada juga bebatuan granit yang sudah dipecahkan. Volume dari kerikil tersebut kurang lebih 2 mm hingga 75 mm. 

Tidak hanya berfungsi sebagai bahan campuran beton, agregat kasar berupa kerikil ini juga dimanfaatkan pada proyek infrastruktur badan jalan sekaligus sebagai campuran batu pada sirtu. Batu kerikil telah di kategorisasi ke dalam tiga kelompok, diantaranya kerikil sungai, kerikil galian dan kerikil pantai. Pada kerikil pantai dan kerikil sungai terdapat sejumlah zat zat yang telah berkombinasi.

Tekstur permukaan nya cenderung licin dengan bentuknya yang bulat. Sementara pada kerikil galian, memiliki kandungan sejumlah zat diantaranya debu, tanah liat, pasir dan beragam zat organik lainnya. Usut punya usut, penggunaan kerikil ketiga alam tersebut mampu memberikan kualitas ikatan adukan yang semakin membaik. Berikut ini beragam varian batu kerikil yang mudah untuk dikenali.

  • Kerikil murni
  • Kerikil gunung
  • Kerikil teluk
  • Kerikil pantai
  • Kerikil sungai
  • Kerikil tepi
  • Kerikil piemonte
  • Kerikil tumbukan
  • Cadas tumbukan

Kricak merupakan penamaan lain dari material batu pecah, merupakan salah satu agregat kasar yang didapatkan dari bebatuan alam yang sudah dipecah. Biasanya kricak memiliki ukuran 5 hingga 70 mm. Mesin pemecah batu merupakan salah satu alat yang digunakan pada proses penggilingan material ini. Kini batu beton telah tersebar ke dalam variasi yang beraneka ragam, sehingga hal ini akan memudahkan anda untuk menyesuaikan pada tingkat kebutuhan proyek tertentu. Khususnya ketika anda terlibat dalam konstruksi infrastruktur publik.

Penerapan batu split pada beton dibedakan dalam beberapa tipe berdasarkan ukurannya yang kini tersedia di pasaran, diantaranya 1 hingga 2 cm, 2 hingga 3 sentimeter serta 3 hingga 4 cm. Misal, apabila anda akan melakukan pengerjaan konstruksi pada bangunan tiang atau kolom cor beton yang berukuran 30 cm x 30 cm atau 20 cm x 30 cm. Maka, batu pecah yang harus anda gunakan adalah 3 hingga 4 cm. Akan tetapi bila anda melakukan pekerjaan cor kolom praktis dengan ukuran hanya 10 cm x 10 cm, sangat direkomendasikan untuk menggunakan batu pecah berukuran paling kecil, yakni 1 hingga 2 cm.

Berdasarkan klasifikasi ukuran batu beton jenis kricak, didapatlah beberapa poin berikut ini.

  • Kricak halus, memiliki ukuran 5 hingga 10 mm
  • Kricak sedang, memiliki ukuran 10 hingga 20 mm
  • Kricak kasar, memiliki ukuran 20 hingga 40 mm
  • Kricak kasar sekali, memiliki ukuran 40 hingga 70 mm

Pasir

Pasir merupakan salah satu agregat halus pada bahan baku beton. Besaran percepatan maksimum pasir yang ditetapkan adalah 4,7 mm sesuai standarisasi SNI 02-6820-2002. Tidak boleh lebih dari 5 mm. Dengan demikian pasir yang digunakan bisa dari alam atau dari pecahan batu yang dihasil oleh para pemecah batu. 

Di lain sisi, agregat halus menurut SNI 1737-1989-F adalah berupa kumpulan butiran batu pecah, pasir, kerikil dan aneka mineral yang lain. Entah itu bagian dari hasil alam maupun buatan manusia. Yang jelas pasir merupakan bebatuan yang sudah dihaluskan. Besaran butiran pasir kurang lebih 0,14 hingga 5 mm. Biasanya diperoleh dari hasil disintegrasi bantuan alam, bisa juga dengan alat pemecah batu. Pasir digunakan sebagai bahan adukan, sehingga agregat halus ini harus diamati di lapangan.

Dari segi ukuran butiran pasir telah diklasifikasi menjadi dua kelompok, diantaranya agregat halus dan agregat kasar.

  1. Agregat halus adalah agregat yang dimana butir-butir secara keseluruhan dapat menembus lubang ayakan berukuran 4,75mm, 4,8 mm atau 5,0 mm.
  2. Agregat kasar merupakan agregat yang butir-butirnya tidak mampu tembus atau tertinggal pada lubang ayakan berukuran 4,75mm, 4,8 mm atau 5,0 mm.

Menurut SNI 03-6821-2002, terdapat beberapa persyaratan agregat halus yang harus dipenuhi sesuai standar prosedur, sebagai berikut:

  • Agregat halus memiliki butiran yang teksturnya keras dan tajam
  • Butiran halus harus memiliki sifat kekal, yaitu tidak mudah hancur atau pecah akibat cuaca ekstrim. Pembuktian dari sifat kekal tersebut dapat dilakukan dengan pengujian menggunakan larutan jenuh garam.
  • Agregat halus sangat ditekankan untuk tidak memiliki kandungan lumpur sebesar 5% pada berat kering. Apabila telah melampaui kadar kandungan tersebut, maka pasir wajib dicuci terlebih dahulu.

Gradasi agregat merupakan suatu distribusi ukuran butiran pada agregat. Volume pori akan membesar apabila butir-butir agregat seragam. Berbeda halnya jika ukuran yang dimiliki butiran tersebut bervariasi, maka volume pori akan menjadi kecil. Tak lain hal tersebut disebabkan butiran kecil mengisi pori pada butiran besar. Wajar jika pori-porinya menjadi sedikit. Dalam arti lain memiliki tingkat kepadatan yang tinggi. Jika volume pori-porinya mengecil, ada baiknya bahan penguat yang diperlukan juga sedikit. Tingkat kekasaran pasir menurut gradasinya telah dikelompokkan menjadi 4, berdasarkan SK SNI SNI T-15-1990-03.

  • Pasir halus
  • Pasir agak halus
  • Pasir agak kasar
  • Pasir kasar

Semen

Semen seperti pada umumnya semen merupakan zat yang biasa digunakan untuk merekatkan batu bata, batako atau aneka bahan bangunan yang lain. Istilah semen sendiri berasal dari kata caementum, berasal dari bahasa latin yang artinya memotong menjadi sejumlah bagian kecil secara tidak beraturan. Semen yang digunakan pada pembuatan beton adalah semen Portland. Semen termasuk dalam material komposit yang diantaranya terdapat agregat kerikil, pasir serta air. Beton dapat dicetak sesuai bentuk yang akan digunakan, begitu beton sudah mengeras maka dapat digunakan sebagai elemen struktur pada suatu proyek konstruksi.

Semen Portland juga dimanfaatkan pada pembuatan mortar, dimana Terdapat campuran antara air dengan pasir saja. Semen yang telah dicampur dengan air akan membentuk sebuah adonan yang nantinya akan mengeras dalam beberapa jam, jika proses pengeringannya semakin lama maka semakin kuat pula tingkat pengerasannya. Secara umum, beton dapat kering setelah 21 hari, kemudian mencapai titik pengerasan maksimal secara berlanjut.  Semen Portland telah diklasifikasi ke dalam 5 tipe, diantaranya:

Tipe 1 : Merupakan semen Portland yang digunakan untuk konstruksi umum atau tidak terlalu memerlukan syarat-syarat khusus. Tipe ini paling banyak diproduksi dan dipasarkan.

Tipe 2 : Merupakan semen portland yang khusus digunakan untuk bangunan bersuhu tinggi. Sehingga terjadi proses pengurangan air atau hidrasi selama proses pengeringan. Tipe 2 sangat disarankan untuk beberapa bangunan sarana publik, seperti dermaga, landasan dan bendungan.

Tipe 3 : Merupakan semen portland yang memerlukan tingkat kekuatan tinggi pada penggunaannya, khususnya ketika tahap permulaan pasca terjadinya pengikatan. Kekuatan dari semen Portland tipe 3 ini setara dengan portland tipe 3 yang sudah berumur 28 hari.

Tipe 4 : Merupakan semen portland yang membutuhkan tingkat panas hidrasi rendah dalam penggunaanya. Sehingga wajar jika semen tipe ini sering diterapkan pada bendungan dan lapangan udara yang membutuhkan struktur concrete massive bervolume besar.

Tipe 5 : Merupakan semen portland yang membutuhkan resistensi tinggi terhadap zat sulfat pada penggunaannya. Semen ini sangat cocok diterapkan pada pembuatan beton bertulang yang areanya rentah terhadap air atau tanah mengandung zat garam atau sulfat. Dalam artian mudah terjadi korosi. Area tersebut adalah pertambangan, lautan, perairan payau dan masih banyak lagi.

Demikian ulasan seputar bahan baku pembuatan beton sesuai standar prosedur. Semoga dapat mengedukasi Anda dalam memilih atau menerapkan produk beton terbaik sesuai kebutuhan. Jika Anda membutuhkan rekomendasi beton berkualitas, maka PT. Megacon Bangun Perkasa siap memenuhi kebutuhan konstruksi Anda. Komitmen kami adalah memberikan pelayanan setulus hati kepada seluruh klien, baik lama maupun baru. Jangkauan pengiriman kami saat ini pun telah tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *